GURU GEN Z


Dunia ini berkembang semakin canggih seiring dengan berkembangnya teknologi yang semakin cepat. Setiap perkembangan yang dilalui tentunya akan terus lahir generasi generasi baru yang memiliki karakteristik yang berbeda antara satu generasi dengan generasi lain. Setidaknya ada lima generasi yang berkembang selama seratus tahun belakangan ini. Generasi yang paling dibicarakan saat ini ialah generasi milenial. Mari kita simak generasi milenial yang sedang booming saat ini.

Dikutip dari halaman kominfo.go.id. bahwa istilah milenial sendiri diciptakan oleh dua pakar sejarah dan penulis Amerika, yakni Willian Strauss dan Neil Howe dalam beberapa tulisannya. Dalam tulisannya, Thomas C. Reeves yang mengutip Howe dan Strauss (2000) serta Martin dan Tulgan (2002) menyatakan bahwa akhir dari Generasi Y adalah ditahun 2000 kemudian lahirlah Generasi Milenial.

Laporan Ericsson (dikutip dari Republika.co.id, 26 Desember 2016) menguraikan kecenderungan generasi milenial berkaitan dengan penggunaan teknologi informasi dan komunikasi. Menurut laporan tersebut, untuk memperoleh berbagai informasi, media sosial adalah salah satu sarana terbesar yang amat diandalkan oleh generasi ini.

Connor Blakley dalam bukunya Brand Z membahas bagaimana cara berkomunikasi secara efektif dengan generasi Z dan mengenal lebih banyak tentang generasi Z. Generasi Z juga mendapatkan peluang yang lebih besar dan berpotensial dalam mendapatkan penghasilan. Hingga tak heran para pemuda bangkit dan banyak menciptakan inovasi terbaru serta meraih kesuksesan yang lebih cepat diantaranya Nadiem Makarim, Belva Devara, Iman Usman hingga Atta halilintar. Mereka adalah sebagian kecil diantara nama nama anak muda pada Generasi Z yang berhasil sukses hingga mendunia.

Sebaliknya, dalam setiap perbincangan sesama guru juga orangtua, seringkali terjadi keluhan hingga perbincangan panjang yang tiada habisnya. Perbincangan tersebut tak lain mengenai sikap, kepribadian, cara belajar, komunikasi, interaksi dan lain lain. Karakter milenial ditandai dengan meningkatnya keakraban dengan teknologi digital. Hal ini ditandai dengan jumlah remaja pengguna layanan streaming video makin tak terbendung. Ericsson mencatat, hingga 2011 silam hanya ada sekitar tujuh persen remaja berusia 16 - 19 tahun yang menonton video melalui Youtube. Rata-rata mereka menghabiskan waktu di depan layar perangkat mobile sekitar tiga jam sehari. Empat tahun kemudian meningkat menjadi 20 persen. Hal ini dibuktikan dengan generasi millennial yang saat ini tidak bias dipisahkan dari menonton video secara online.

Sebuah studi yang dikutip oleh livescience dari “USA Today” pada tahun 2012 menunjukkan, bahwa generasi milenial terkesan individual, fokus pada nilai-nilai materialistis dan kurang peduli membantu sesama. Sisi negatifnya, generasi ini cenderung malas, narsis, dan suka melompat dari pekerjaan satu ke pekerjaan lain. Sementara sisi positifnya adalah pribadi terbuka, kepercayaan diri yang bagus, mampu mengekspresikan perasaan. Dengan demikian mereka akhirnya bersifat liberal, optimis dan mudah menerima ide-ide baru.

Generasi Z juga membawa perubahan yang banyak dalam dunia pendidikan. Guru ialah subjek yang mendapat tantangan yang lebih besar dari sebelumnya. Karakter yang lebih beragam, materi pelajaran yang semakin kompleks, standard pembelajaran serta tuntunan capaian kemampuan berpikir siswa yang lebih tinggi. Maka dibutuhkan guru yang mampu bersaing tidak hanya kepandaian tetapi kreatifitas dan kecerdasan dalam bertindak (hard and soft skill). Menurut Susanto (2010) dikutip dari Andi dan Ishaq dalam artikelnya, terdapat 7 tantangan guru di abad 21, yaitu :

1.      Teaching in multicultural society, mengajar di masyarakat yang memiliki beragam budaya dengan kompetensi multi bahasa.

2.      Teaching for the construction of meaning, mengajar untuk mengkonstruksi makna (konsep).

3.      Teaching for active learning, mengajar untuk pembelajaran aktif.

4.      Teaching and technology, mengajar dan teknologi.

5.      Teaching with new view about abilities, mengajar dengan pandangan baru mengenai kemampuan.

6.      Teaching and choice, mengajar dan pilihan.

7.      Teaching and accountability, mengajar dan akuntabilitas.


Untuk memecahkan masalah tersebut, guru dituntut mampu untuk membaca setiap tantangan yang ada pada masa kini khususnya masa generasi millennial ini. Guru harus mampu untuk mencari sendiri pemecahan masalah yang timbul dari dampak kemajuan zaman karena tidak semua kemajuan zaman berdampak baik, dampak negatif juga harus diperhitungkan terutama dibidang teknologi. Jika dimanfaatkan dengan baik, maka teknologi justru menjadi alat yang memudahkan dalam pembelajaran jika digunakan sebagai media.

Kesimpulannya, generasi millennial ini bukanlah problem generation yang harus ditakutkan dan masuk dalam zona merah untuk direhabilitasi. Justru ketika anak pada generasi ini dioptimalkan dan diarahkan dengan baik maka kemampuan anak akan tumbuh lebih pesat dari yang kita harapkan. Sekali lagi, kemampuan generasi Z tidak selalu diukur secara akademis namun kreatifitas dan skill yang baik terutama di era teknologi. Kemudian ditanamkan nilai nilai karakter yang baik akan lebih menjadi manusia yang berkualitas dizaman millennial ini. 

ARTIKEL TERKAIT

0 COMMENTS

LEAVE A COMMENT